Berjalan dengan Iman
Pdt. Paul Waney
Ayat Utama
“Sebab hidup kami ini adalah berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan” (2 Korintus 5:7).
Pendahuluan
Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan,
Mari kita merenungkan bersama ayat yang begitu mendasar bagi kehidupan seorang Kristen: “Sebab hidup kami ini adalah berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan” (2 Korintus 5:7).
Kata kunci dalam ayat ini adalah “hidup” yang dalam bahasa Yunani aslinya adalah “peripateo” yang berarti “berjalan”.
Paulus tidak sekadar mengatakan bahwa kita memiliki iman, tetapi ia menekankan bahwa kita “berjalan dalam iman”.
Ini adalah sebuah perjalanan, sebuah gaya hidup, bukan sekadar keyakinan sesaat.
Paulus, sang rasul yang begitu berapi-api dalam memberitakan Injil, juga memiliki kerinduan yang mendalam.
Ia lebih suka kalau Tuhan Yesus segera datang kembali.
Ia juga bertanya-tanya kapan ia akan dipanggil pulang.
Namun, di tengah kerinduan dan ketidakpastian itu, ia menegaskan bahwa ia “berjalan dalam percaya, bukan berdasarkan apa yang kelihatan”.
Berjalan dalam Iman: Sebuah Perjalanan
Ketika kita berbicara tentang iman, kita seringkali teringat pada tokoh-tokoh besar dalam Alkitab seperti Musa dan Abraham.
Musa, seorang pemimpin yang membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, berjalan dalam iman ketika ia menaati perintah Tuhan untuk membelah Laut Merah.
Abraham, bapa orang percaya, berjalan dalam iman ketika ia meninggalkan tanah kelahirannya untuk pergi ke tanah yang dijanjikan Tuhan.
Iman bukanlah sekadar keyakinan intelektual, tetapi juga tindakan nyata.
Iman melibatkan seluruh keberadaan kita: pikiran, perasaan, dan tindakan.
Ketika kita berjalan dalam iman, kita tidak hanya percaya bahwa Tuhan ada, tetapi kita juga mempercayai janji-janji-Nya dan bertindak sesuai dengan kepercayaan itu.
Siapakah Saya ini?
Dalam konteks iman, pertanyaan “siapa saya ini?” menjadi sangat penting.
Ketika kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah yang dicintai, identitas kita berubah.
Kita bukan lagi orang yang lemah dan tak berdaya, tetapi kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dari dalam.
Mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Penebus: Pengakuan ini adalah fondasi iman kita. Ketika kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita membuka hati kita untuk menerima karya penyelamatan-Nya.
Ada kontak terus-menerus dengan Tuhan Yesus: Melalui doa, membaca Firman Tuhan, dan persekutuan dengan sesama orang percaya, kita dapat menjaga hubungan yang erat dengan Tuhan.
Memohon Tuhan selalu menuntun hidupnya: Kita tidak dapat berjalan dalam iman tanpa tuntunan Roh Kudus. Oleh karena itu, kita perlu terus-menerus meminta Tuhan untuk memimpin hidup kita.
Mempercayakan Tuhan Yesus untuk memelihara hidupnya: Kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, percaya bahwa Ia akan memelihara dan melindungi kita.
Bertahan dalam Kesusahan
Perjalanan iman tidak selalu mulus. Kita akan menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Namun, di tengah-tengah kesusahan, kita harus ingat bahwa:
- Ingatlah Bapa sudah memilih aku menjadi anak-Nya: Kita adalah anak-anak Allah yang dicintai.
- Aku seorang di dalam Yesus Kristus: Identitas kita sebagai orang percaya memberikan kita kekuatan untuk menghadapi segala sesuatu.
- Berjalanlah dengan percaya kepada Tuhan Yesus di dalam hidup ini: Teruslah berjalan dalam iman, meskipun terlihat mustahil.
Kesimpulan
Saudara-saudari, hidup ini adalah sebuah perjalanan.
Perjalanan iman yang penuh tantangan namun juga penuh dengan berkat.
Mari kita terus berjalan dalam iman, mempercayai janji-janji Tuhan, dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Pertanyaan Untuk Renungan
- Apa yang menghambat Anda untuk berjalan lebih dalam dalam iman?
- Bagaimana Anda dapat memperkuat hubungan Anda dengan Tuhan?
- Apa tindakan konkret yang dapat Anda lakukan untuk hidup sesuai dengan iman Anda?
Mari kita sama-sama berkomitmen untuk hidup dalam iman, dan melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita.
Amin