Teladan Ibu Niken Wongkar bagi Pelayanan Yayasan Wajah Bumi Karitas
Pendahuluan: Jejak Kasih di Tengah Keterbatasan
Setiap karya besar yang lahir dari sebuah yayasan rohani sesungguhnya bukan hanya tentang gedung yang berdiri atau program yang berjalan, tetapi juga tentang orang-orang sederhana yang memberikan hidupnya bagi kemuliaan Tuhan.
Yayasan Wajah Bumi Karitas, yang berdiri melalui visi Ibu Pendeta Sarah Tahitu-Hengkesa, adalah wadah pelayanan yang secara khusus menopang keluarga pendeta yatim, anak-anak yatim/piatu, serta mereka yang membutuhkan bimbingan rohani Kristen.
Namun, kisah pelayanan ini tidak pernah berdiri sendiri; ia dikuatkan oleh teladan-teladan iman yang nyata.
Salah satunya adalah Ibu Niken Wongkar, istri almarhum Pdt. Joy Wongkar.
Kisah hidup Ibu Niken menjadi sebuah cermin tentang apa yang dalam bahasa Ibrani disebut tzedakah — sebuah istilah yang kerap diterjemahkan sebagai “sedekah”, namun makna aslinya jauh lebih dalam: kebenaran yang diekspresikan melalui pemberian, pendidikan, dan keteladanan.
Dengan hidup sederhana, iman teguh, dan kasih yang tulus, Ibu Niken menghadirkan teladan nyata bahwa sedekah bukanlah tentang jumlah besar yang kita berikan, melainkan tentang kesungguhan hati yang mendidik generasi berikutnya untuk tetap percaya bahwa Tuhan itu baik.
Teladan Kesetiaan: Dari Satya Wacana hingga Pelayanan di Lampung
Ibu Niken Wongkar bukanlah sosok asing bagi pelayanan Kristen di Indonesia.
Bersama almarhum suaminya, Pdt. Joy Wongkar, ia pernah melayani dengan sepenuh hati di berbagai tempat, termasuk di GPIB Lampung.
Keduanya bukan hanya pasangan suami-istri, melainkan juga rekan seperjalanan rohani yang memiliki kerinduan besar: menghadirkan rumah singgah bagi anak-anak agar mereka dapat tinggal, bersekolah, dan bertumbuh dalam iman.
Namun, cita-cita itu tidak pernah terwujud sepenuhnya karena perjalanan hidup membawa mereka berpindah-pindah, mengikuti panggilan pelayanan.
Hingga akhirnya, Tuhan berkenan memanggil Pdt. Joy Wongkar pulang ke rumah Bapa saat masih melayani di GPIB Effatha, Semarang.
Kepergian sang suami tentu menjadi pukulan berat, namun di sanalah kekuatan iman Ibu Niken diuji. Alih-alih larut dalam duka, ia justru menyalurkan kasih melalui tindakan nyata.
Uang duka yang diterimanya tidak disimpan untuk kepentingan pribadi, melainkan disumbangkan bagi pelayanan GPIB Effatha, agar jemaat dapat membeli mobil pelayanan.
Inilah cermin pertama dari tzedakah: memberi dengan kebenaran, bukan demi kepentingan diri, melainkan demi melanjutkan pekerjaan Tuhan.
Membangun Kehidupan Baru di Salatiga
Setelah kepergian sang suami, Ibu Niken kembali ke Salatiga, kota asal orang tuanya.
Di sana ia memulai kembali kehidupannya bersama dua anak yang ia kasihi.
Satu sudah menyelesaikan pendidikan S1, dan yang lain bahkan sudah lulus S2.
Keberhasilan anak-anaknya bukan hanya buah kecerdasan mereka, melainkan juga buah dari ketekunan doa dan kerja keras seorang ibu yang tidak menyerah pada keadaan.
Dengan latar belakang sarjana hukum, sebenarnya ia bisa memilih untuk mengejar kenyamanan hidup.
Namun, Ibu Niken memilih jalan sederhana.
Ia membuka warung kecil yang menjual beras, galon, dan kebutuhan pokok sehari-hari.
Ia sendiri yang mengantar pesanan menggunakan angkot, dengan penuh ketekunan dan kerendahan hati.
Di samping itu, ia melatih dirinya membuat sprei.
Dari hasil jahitan tangan yang teliti, ia menghasilkan karya-karya yang indah dan bermanfaat.
Pelanggan hanya perlu membawa kain yang mereka sukai, dan Ibu Niken akan menjahitkannya dengan penuh ketelitian.
Setiap sprei bukan hanya kain yang dijahit, tetapi juga doa yang dipanjatkan agar keluarga yang memakainya mengalami damai sejahtera Tuhan.
Karya Tangan yang Menjadi Berkat bagi Yayasan Wajah Bumi Karitas
Ketika mendengar tentang karya tangan Ibu Niken, Ibu Pendeta Sarah Tahitu-Hengkesa tergerak hatinya untuk memesan empat sprei bagi rumah tinggal Yayasan Wajah Bumi Karitas di Salatiga.
Prosesnya sederhana, namun penuh makna. Ibu Niken datang sendiri untuk mengukur panjang, lebar, dan tinggi tempat tidur.
Semua dicatat dengan seksama, lalu dijahit, dicuci, dan disetrika dengan penuh ketelitian.
Setelah itu, ia sendiri yang mengantarkan sprei tersebut ke yayasan.
Tidak hanya sprei, Ibu Niken juga membuatkan gorden, sehingga rumah tinggal yayasan semakin nyaman.
Namun, lebih dari sekadar benda, sprei itu adalah simbol kasih dan doa.
Ibu Niken bukan hanya menjual hasil karyanya, melainkan juga memberikan hatinya.
Ia datang ke yayasan bukan sekadar sebagai penjual, tetapi sebagai sahabat pelayanan.
Ia ikut berbahagia melihat perkembangan yayasan, bahkan ikut mendoakan.
Setiap kali berjumpa, ia selalu berkata, “Tuhan itu baik. Kita hanya bisanya segini.
Semoga Tuhan berkati.” Kalimat sederhana, namun penuh iman.
“Sedekah yang Mendidik”: Dari Ibrani ke Kehidupan Sehari-hari
Dalam tradisi Ibrani, kata sedekah berasal dari akar kata tzedek yang berarti keadilan atau kebenaran.
Dengan demikian, sedekah bukan hanya memberi uang atau barang, melainkan sebuah tindakan kebenaran yang mendidik — baik yang memberi maupun yang menerima.
Pemberian yang benar tidak membuat penerima bergantung, tetapi menguatkan mereka untuk berdiri sendiri, melihat tangan Tuhan yang bekerja, dan belajar memberi kembali.
Apa yang dilakukan Ibu Niken adalah wujud nyata dari tzedakah.
Dengan menjahit sprei, ia bukan sekadar mencari nafkah.
Ia sedang mendidik anak-anaknya, bahkan juga Yayasan Wajah Bumi Karitas, bahwa kerja keras, doa, dan ketekunan adalah bagian dari ibadah.
Ia mendidik semua orang yang melihat hidupnya bahwa iman sejati tidak pernah menyerah pada keadaan.
Ia mendidik bahwa memberi bukan soal berapa banyak yang kita miliki, melainkan bagaimana kita rela membagikan apa yang ada dengan kasih dan iman.
Alkitab meneguhkan hal ini dalam Amsal 11:25: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan; siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”
Hidup Ibu Niken adalah bukti nyata bahwa orang yang setia memberi, bahkan dari keterbatasan, akan terus mengalami kelimpahan berkat rohani dan sukacita.
Kehadiran yang Menguatkan: Doa, Tumpangan, dan Kesetiaan
Pelayanan Ibu Niken tidak berhenti pada sprei atau warung kecilnya.
Ia juga memberikan tumpangan kepada keluarga Baramuli — salah satu keluarga binaan Yayasan Wajah Bumi Karitas — selama satu tahun penuh.
Bayangkan, seorang janda yang hidup sederhana justru membuka pintu rumahnya untuk menolong orang lain.
Ia menghidupi perkataan Yesus dalam Matius 25:35, “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.”
Selain itu, Ibu Niken juga aktif dalam pelayanan doa.
Ia menjadi bagian dari tim doa dan melayani sebagai presbiter di GPIB Taman Sari, Salatiga.
Dari mulutnya senantiasa keluar ucapan syukur: “Tuhan itu baik.”
Ia tahu bahwa mezbah doa adalah pusat kekuatan rohani.
Itulah sebabnya ia tidak pernah absen dalam ibadah Yayasan Wajah Bumi Karitas.
Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah dukungan nyata yang menguatkan para pengurus, anak-anak, dan semua keluarga binaan.
Dari Jiwa Sang Suami ke Hati Sang Istri
Ada satu hal yang membuat kisah ini begitu menyentuh: Ibu Niken sadar bahwa pelayanan bukan hanya milik suaminya yang adalah seorang Pendeta, melainkan juga panggilannya sendiri.
Ia pernah berkata bahwa ia ingin melakukan apa yang disukai oleh almarhum suaminya, sebab jiwa melayani itu adalah warisan yang harus ia lanjutkan.
Ia mendampingi suaminya hingga akhir, dan setelah itu, ia melanjutkan tongkat estafet pelayanan dengan caranya sendiri.
Inilah teladan yang begitu mendidik.
Dalam dunia yang cenderung individualis, Ibu Niken mengingatkan kita bahwa pelayanan bukan soal jabatan, melainkan soal hati yang mau taat kepada Tuhan.
Penutup: Panggilan bagi Kita Semua
Kisah Ibu Niken Wongkar adalah kisah tentang sedekah yang mendidik.
Ia tidak memiliki banyak harta, namun ia memiliki iman yang teguh.
Ia tidak hidup dalam kemewahan, namun ia kaya dalam kasih dan kemurahan hati.
Ia tidak berhenti memberi, karena ia tahu bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu.
Bagi Yayasan Wajah Bumi Karitas, teladan ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kepada keluarga pendeta yatim, anak-anak binaan, dan semua yang dilayani, bukanlah tentang seberapa besar dana yang terkumpul, tetapi tentang bagaimana setiap pemberian — besar atau kecil — dilakukan dengan hati yang benar di hadapan Tuhan.
Dengan begitu, setiap pemberian itu mendidik kita semua: yang memberi belajar taat, dan yang menerima belajar bersyukur.
Kiranya kisah ini menggugah kita semua untuk ikut serta dalam pelayanan ini.
Mari kita mengambil bagian, bukan hanya dengan dana, tetapi juga dengan doa, waktu, tenaga, dan talenta.
Sebab ketika kita memberi, sesungguhnya kita sedang menabur bagi Kerajaan Allah.
Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 9:7, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”
Inilah panggilan bagi kita: memberi dengan sukacita, karena kita tahu bahwa setiap sedekah sejati adalah sedekah yang mendidik.