Refleksi Perayaan Pentakosta di Yayasan Wajah Bumi Karitas
Berdasarkan Kisah Para Rasul 2:37-38
Disampaikan oleh Pdt. Yannedelle Hehanussa-Sahetapy (GPIB Beth-El Magelang)
Perayaan Pentakosta yang dilaksanakan di Yayasan Wajah Bumi Karitas menjadi sebuah momen yang sangat berharga, bukan hanya karena Gereja kembali mengingat turunnya Roh Kudus atas para Murid Tuhan, tetapi juga karena setiap orang yang hadir diajak untuk melihat bagaimana Roh Kudus terus bekerja sampai hari ini melalui kehidupan anak-anak yatim dan piatu dari keluarga Pendeta yang sedang dibina oleh Yayasan Wajah Bumi Karitas.
Ibadah yang dipimpin oleh Ibu Pdt. Yanedelle Hehanussa – Sahetapy dari GPIB Beth-El Magelang berlangsung dalam suasana yang penuh syukur, haru, dan pengharapan. Firman Tuhan yang diambil dari Kisah Para Rasul 2:37-38 membawa setiap peserta ibadah untuk memahami bahwa Pentakosta bukan sekadar peristiwa sejarah yang terjadi dua ribu tahun lalu. Pentakosta adalah karya Roh Kudus yang terus berlangsung sampai sekarang, mengubah hati manusia dan menggerakkan mereka untuk menjadi saluran kasih Allah bagi sesama.
Firman Tuhan berkata:
“Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara? Jawab Petrus kepada mereka: Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”
Ayat ini menggambarkan sebuah momen yang luar biasa. Setelah Petrus berkhotbah dengan kuasa Roh Kudus, ribuan orang yang mendengarnya mengalami sesuatu yang sangat mendalam. Mereka tidak hanya mendengar dengan telinga, tetapi hati mereka tersentuh. Hati mereka terharu. Mereka sadar bahwa hidup mereka membutuhkan Tuhan.
Pdt. Yanedelle mengingatkan bahwa tanda pertama dari pekerjaan Roh Kudus adalah hati yang digerakkan oleh Tuhan.
Roh Kudus tidak selalu bekerja melalui peristiwa yang spektakuler. Kadang-kadang Ia bekerja melalui air mata. Melalui rasa iba. Melalui kepedulian yang muncul ketika melihat penderitaan sesama. Melalui kerinduan untuk menolong mereka yang sedang berjuang.
Ketika orang-orang di Yerusalem mendengar khotbah Petrus, mereka bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat?”
Pertanyaan ini lahir dari hati yang disentuh Tuhan.
Dan pertanyaan yang sama juga bergema dalam Perayaan Pentakosta di Yayasan Wajah Bumi Karitas.
Ketika kita melihat anak-anak yang kehilangan ayah, kehilangan ibu, atau kehilangan kedua orang tua yang selama ini menjadi pelayan Tuhan, apakah hati kita tergerak?
Ketika kita mendengar perjuangan mereka untuk tetap bersekolah, tetap kuliah, tetap bertahan dalam keterbatasan ekonomi, apakah hati kita terharu?
Ketika kita mengetahui bahwa ada anak-anak yang harus menempuh perjalanan panjang demi pendidikan, harus hidup hemat setiap hari, harus berjuang menghadapi kesepian dan ketidakpastian masa depan, apakah kita bertanya kepada Tuhan, “Apa yang harus kami perbuat?”
Inilah makna Pentakosta yang sesungguhnya.
Roh Kudus bukan hanya memenuhi gereja dengan sukacita, tetapi juga memenuhi hati umat Tuhan dengan belas kasihan.
Roh Kudus mengubah hati yang acuh menjadi hati yang peduli.
Roh Kudus mengubah tangan yang tertutup menjadi tangan yang memberi.
Roh Kudus mengubah kehidupan yang berpusat pada diri sendiri menjadi kehidupan yang dipakai Tuhan untuk memberkati sesama.
Pdt. Yanale kemudian mengajak jemaat untuk melihat bagaimana Petrus menjawab pertanyaan orang banyak itu.
“Bertobatlah.”
Sering kali kata pertobatan hanya dipahami sebagai meninggalkan dosa-dosa tertentu. Padahal pertobatan berarti perubahan arah hidup secara menyeluruh.
Pertobatan berarti tidak lagi hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi hidup bagi Tuhan.
Pertobatan berarti mengizinkan Roh Kudus mengubah cara berpikir, cara melihat sesama, dan cara menggunakan berkat yang Tuhan percayakan.
Dalam konteks pelayanan Yayasan Wajah Bumi Karitas, pertobatan juga berarti membuka mata terhadap kebutuhan orang lain.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang mengejar kenyamanan pribadi. Namun Roh Kudus memanggil umat Tuhan untuk memperhatikan mereka yang membutuhkan dukungan.
Anak-anak yang dibina oleh Yayasan Wajah Bumi Karitas bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah generasi yang sedang dipersiapkan Tuhan.
Mereka memiliki mimpi.
Mereka memiliki harapan.
Mereka memiliki potensi yang besar.
Namun untuk sampai kepada masa depan yang Tuhan sediakan, mereka membutuhkan tangan-tangan kasih yang mau berjalan bersama mereka.
Karena itu pelayanan Yayasan Wajah Bumi Karitas bukan hanya pelayanan sosial.
Ini adalah pelayanan iman.
Ini adalah pelayanan kasih.
Ini adalah pelayanan yang lahir dari pekerjaan Roh Kudus.
Setelah ibadah selesai, acara dilanjutkan dengan perkenalan singkat dari beberapa anak binaan Yayasan Wajah Bumi Karitas.
Di sinilah suasana menjadi semakin mengharukan.
Satu demi satu anak memperkenalkan diri.
Mereka memperkenalkan diri dengan sederhana.
Sebagian tampak gugup.
Sebagian berusaha tersenyum.
Namun di balik senyum itu tersimpan kisah perjuangan yang tidak ringan.
Ada yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Ada yang sedang menyelesaikan sekolah menengah.
Ada yang sedang berjuang memasuki dunia pendidikan yang lebih tinggi.
Masing-masing memiliki cerita yang berbeda, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: mereka sedang berjuang untuk masa depan.
Tentang perjuangan hidup jauh dari keluarga.
Tentang rasa rindu kepada orang tua yang telah dipanggil Tuhan.
Tentang kecemasan menghadapi masa depan.
Namun yang sangat menyentuh adalah bahwa di tengah semua pergumulan itu, mereka tidak kehilangan iman.
Mereka tetap percaya bahwa Tuhan memelihara hidup mereka.
Mereka tetap percaya bahwa Tuhan membuka jalan.
Mereka tetap percaya bahwa ada orang-orang yang dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi mereka.
Beberapa anak menyampaikan permohonan doa.
Mereka meminta dukungan doa agar diberi kesehatan.
Agar diberi hikmat dalam belajar.
Agar diberi kekuatan menghadapi tekanan akademik.
Agar tidak menyerah dalam menjalani kehidupan.
Agar tetap setia kepada Tuhan.
Permohonan-permohonan yang sederhana itu justru memperlihatkan kedewasaan iman yang luar biasa.
Mereka tidak meminta kehidupan yang mudah.
Mereka meminta kekuatan untuk menjalani kehidupan.
Mereka tidak meminta jalan tanpa tantangan.
Mereka meminta Tuhan menolong mereka melewati tantangan.
Karena mereka melihat bahwa Roh Kudus benar-benar bekerja dalam kehidupan anak-anak ini.
Mereka mungkin kehilangan banyak hal.
Mereka mungkin menghadapi keterbatasan.
Mereka mungkin mengalami kesedihan yang mendalam.
Namun mereka tidak kehilangan pengharapan.
Mereka tetap melangkah bersama Tuhan.
Mereka tetap percaya kepada kasih Tuhan.
Mereka tetap berani bermimpi.
Bukankah ini juga pesan Pentakosta?
Ketika Roh Kudus turun atas para murid, mereka bukanlah orang-orang yang kuat menurut ukuran dunia.
Mereka adalah orang-orang biasa.
Mereka memiliki ketakutan.
Mereka memiliki kelemahan.
Mereka memiliki keterbatasan.
Namun ketika Roh Kudus memenuhi mereka, hidup mereka berubah.
Mereka menjadi saksi Kristus yang membawa dampak besar bagi dunia.
Demikian pula dengan anak-anak yang dibina oleh Yayasan Wajah Bumi Karitas.
Hari ini mungkin mereka masih menjalani proses pendidikan.
Hari ini mungkin mereka masih bergumul dengan berbagai tantangan.
Hari ini mungkin mereka masih membutuhkan bantuan dan dukungan.
Namun siapa yang dapat membatasi pekerjaan Tuhan dalam hidup mereka?
Mungkin di antara mereka ada calon guru yang akan mendidik banyak generasi.
Mungkin ada calon Pendeta yang akan melayani Jemaat Tuhan.
Mungkin ada calon dokter yang akan menolong banyak orang.
Mungkin ada calon pemimpin yang akan membawa perubahan.
Mungkin ada calon Misionaris yang akan memberitakan Injil.
Tuhan melihat jauh melampaui keadaan mereka hari ini.
Dan Tuhan mengundang kita untuk ikut mengambil bagian dalam rencana-Nya.
Di sinilah pesan Pentakosta menjadi sangat relevan bagi para donatur dan sahabat pelayanan Yayasan Wajah Bumi Karitas.
Ketika Roh Kudus bekerja dalam hati seseorang, selalu ada tindakan nyata yang mengikuti.
Kasih tidak berhenti pada rasa haru.
Kasih diwujudkan dalam kepedulian.
Kasih diwujudkan dalam doa.
Kasih diwujudkan dalam dukungan.
Kasih diwujudkan dalam kesediaan berbagi.
Kasih diwujudkan dalam keberanian menjadi jawaban atas doa orang lain.
Banyak dari anak-anak ini dapat terus bersekolah karena Tuhan menggerakkan hati para donatur.
Banyak dari mereka dapat membeli buku karena Tuhan menggerakkan hati para pendukung pelayanan.
Banyak dari mereka dapat melanjutkan pendidikan karena Tuhan menggerakkan hati orang-orang yang bahkan mungkin belum pernah bertemu langsung dengan mereka.
Inilah keindahan pekerjaan Roh Kudus.
Roh Kudus menghubungkan hati orang-orang percaya.
Roh Kudus mempertemukan kebutuhan dengan kepedulian.
Roh Kudus mempertemukan pergumulan dengan pertolongan.
Roh Kudus mempertemukan doa dengan jawaban.
Karena itu, setiap dukungan yang diberikan kepada pelayanan Yayasan Wajah Bumi Karitas sesungguhnya bukan sekadar bantuan materi.
Itu adalah bagian dari karya Allah.
Itu adalah bagian dari pelayanan kasih.
Itu adalah bagian dari kesaksian iman.
Itu adalah bagian dari Pentakosta yang terus berlangsung hingga hari ini.
Ketika para peserta ibadah pulang dari perayaan Pentakosta tersebut, mereka tidak hanya membawa kenangan tentang sebuah ibadah yang indah.
Mereka membawa kesadaran bahwa Tuhan masih bekerja.
Tuhan masih memelihara.
Tuhan masih menguatkan.
Tuhan masih membangkitkan harapan.
Tuhan masih memakai umat-Nya untuk menjadi saluran berkat.
Dan anak-anak Yayasan Wajah Bumi Karitas menjadi bukti nyata bahwa kasih Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.
Di tengah kehilangan, Tuhan memberi penghiburan.
Di tengah keterbatasan, Tuhan memberi jalan.
Di tengah pergumulan, Tuhan memberi kekuatan.
Di tengah ketidakpastian, Tuhan memberi pengharapan.
Kiranya setiap hati yang membaca kesaksian ini mengalami hal yang sama seperti orang-orang yang mendengar khotbah Petrus pada hari Pentakosta.
Kiranya hati kita kembali terharu.
Kiranya hati kita kembali disentuh Roh Kudus.
Kiranya kita kembali bertanya kepada Tuhan, “Apakah yang harus kami perbuat?”
Dan kiranya jawaban atas pertanyaan itu bukan hanya terdengar di dalam hati, tetapi juga terlihat melalui kehidupan yang penuh kasih, kepedulian, doa, dan dukungan bagi mereka yang sedang berjuang meraih masa depan bersama Tuhan.
Selamat merayakan Pentakosta.
Biarlah Roh Kudus terus bekerja dalam hati kita, mengubah hidup kita, dan memakai kita menjadi berkat bagi anak-anak yang Tuhan percayakan dalam pelayanan Yayasan Wajah Bumi Karitas.
Amin.
Ralat untuk pemberitahuan bahwa nama Pelayan Firman pada saat Ibadah Zoom tertulis Pdt. Yanale Sahetapi – Hehanusa, seharusnya Pdt. Yanedelle Hehanussa – Sahetapy.