0812-8451-5650 | 0812-1082-1984 wajahbumikaritas@yahoo.com

 

Ibadah Yayasan Wajah Bumi Karitas

Nats: Lukas 17:11-19
Tema: “Bersyukur dan Tetap Berpengharapan dalam Perjalanan Iman”
Disampaikan oleh: Pdt. Fonny Barahama – Pattipeilohy

 

 


Pendahuluan: Perjalanan yang Tak Mudah

Ibu Pdt. Fonny membuka khotbah dengan mengajak kita membayangkan perjalanan Yesus yang melewati perbatasan antara Samaria dan Galilea. Di sana Yesus bertemu dengan 10 orang yang dikucilkan karena penyakit mereka—kusta. Dengan suara lantang namun penuh luka, mereka berseru: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

Di titik ini, Ibu Pdt. Fonny menegaskan: “Betapa banyak dari kita, khususnya anak-anak binaan dan keluarga Yayasan Wajah Bumi Karitas, juga berseru hal yang sama: Tuhan, kasihanilah kami… dalam kekurangan, dalam kerinduan akan keluarga, dalam beban hidup yang berat.”


 


Titik Balik: Ketaatan yang Mendahului Mujizat

Yesus tidak menyentuh mereka. Tidak pula berkata, “Sembuhlah.” Ia hanya berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.”

Di sinilah kunci pertama: ketaatan dalam iman. Ibu Pdt. Fonny menekankan bahwa kesembuhan terjadi dalam perjalanan. Mereka tidak sembuh seketika, tetapi ketika mereka melangkah, mereka disembuhkan.

“Tuhan tidak selalu menjawab doa kita dengan cara yang instan. Tapi ketika kita taat berjalan di jalan-Nya—meski tidak mudah, meski tanpa jaminan—di sanalah mujizat terjadi,” ujar beliau.


Yang Kembali: Hati yang Bersyukur

Hanya satu yang kembali. Seorang Samaria. Orang asing. Orang yang tidak diperhitungkan. Namun ia kembali, tersungkur di kaki Yesus, memuliakan Allah dengan suara nyaring.

Ibu Pdt. Fonny dengan nada yang penuh kelembutan tapi tajam, bertanya:

“Apakah kita juga termasuk yang kembali kepada Tuhan dengan syukur, atau hanya berlalu setelah menerima berkat-Nya?”

Ia mengajak para pengurus yayasan, anak-anak binaan, bahkan orang tua, untuk membangun budaya syukur. Bukan karena hidup sudah sempurna, tetapi karena Tuhan selalu berjalan bersama dalam kekurangan kita.


 

 


Pesan Khusus untuk Yayasan Wajah Bumi Karitas

Dalam bagian ini, Ibu Pdt. Fonny memadukan kisah Lukas 17 dengan realitas pelayanan Yayasan:

“Anak-anak yang kalian damping bukan hanya anak-anak yatim. Mereka adalah anak-anak harapan. Mungkin dunia melihat mereka sebagai orang yang tersisih. Tapi Yesus justru mendekat pada mereka, sama seperti Ia mendekat pada sepuluh orang kusta.”

Untuk para pengurus yayasan, beliau meneguhkan:

“Pelayanan ini adalah perjalanan panjang. Tapi seperti sepuluh orang kusta itu, kalian harus terus melangkah. Mujizat ada dalam langkah pelayanan kalian.”

Untuk para anak binaan, beliau menyampaikan dengan suara hangat:

“Nak, kamu bukan anak sisa. Kamu anak pilihan. Jangan lelah berseru pada Yesus. Terus berjalan dalam iman. Dan jangan lupa kembali kepada Tuhan dengan hati yang penuh syukur.”

Dan kepada para orang tua yang mungkin letih:

“Tuhan melihat air mata dan kerja kerasmu. Dia tidak pernah tutup telinga. Tetaplah bersatu. Tetaplah berpengharapan.”

 

 


Pesan Khusus untuk Yayasan Wajah Bumi Karitas

Dalam bagian ini, Ibu Pdt. Fonny memadukan kisah Lukas 17 dengan realitas pelayanan Yayasan:

“Anak-anak yang kalian damping bukan hanya anak-anak yatim. Mereka adalah anak-anak harapan. Mungkin dunia melihat mereka sebagai orang yang tersisih. Tapi Yesus justru mendekat pada mereka, sama seperti Ia mendekat pada sepuluh orang kusta.”

Untuk para pengurus yayasan, beliau meneguhkan:

“Pelayanan ini adalah perjalanan panjang. Tapi seperti sepuluh orang kusta itu, kalian harus terus melangkah. Mujizat ada dalam langkah pelayanan kalian.”

Untuk para anak binaan, beliau menyampaikan dengan suara hangat:

“Nak, kamu bukan anak sisa. Kamu anak pilihan. Jangan lelah berseru pada Yesus. Terus berjalan dalam iman. Dan jangan lupa kembali kepada Tuhan dengan hati yang penuh syukur.”

Dan kepada para orang tua yang mungkin letih:

“Tuhan melihat air mata dan kerja kerasmu. Dia tidak pernah tutup telinga. Tetaplah bersatu. Tetaplah berpengharapan.”


 

 


Penutup: Bersyukur adalah Tanda Iman yang Sejati

Yesus berkata:
“Tidakkah kesepuluh orang itu telah menjadi tahir? Dimanakah yang sembilan itu?”

Ibu Pdt. Fonny menyampaikan kalimat pamungkasnya dengan nada penuh perenungan:

“Jangan menjadi bagian dari yang sembilan. Jadilah seperti yang satu itu—yang tahu bahwa hidup ini bukan sekadar menerima, tetapi juga kembali untuk bersyukur.”

Ia menutup khotbah dengan doa syukur yang menguatkan dan memberkati seluruh jemaat, serta menyerahkan kembali pelayanan Yayasan Wajah Bumi Karitas ke dalam tangan Tuhan yang setia memelihara.


 

Refleksi dan Ajakan

  • Apakah aku berjalan dalam iman meski belum melihat jawaban?

  • Apakah aku termasuk yang kembali kepada Tuhan dengan ucapan syukur?

  • Apakah aku tetap bersatu dan berpengharapan bersama komunitas yang Tuhan percayakan?


Ayat Penguat

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
— 1 Tesalonika 5:16-18